Halo Pak Presiden,
Apa kabar? Saya bisa asumsikan bapak nggak akan jawab 'baik-baik saja nak', karena sebenarnya keadaan bapak memang sedang nggak baik.
Oh, boleh saya ralat, bukan cuma keadaan bapak, tapi keadaan negara kita sedang nggak baik.
Pengangguran, orang miskin, kriminalitas, semuanya ibarat jadi menu makanan kami sehari-hari. Sementara di 'orang gedean' sana, yang jadi menu makanan sehari-hari adalah korupsi, korupsi, korupsi...
Jujur pak, saya udah muak banget denger kata 'korupsi'. Saya merasa, semuanya cuma teori. Teori yang nggak bisa dibuktikan oleh fakta.
Saya memang bukan politikus, saya nggak kuliah di jurusan Ilmu Politik, saya nggak pernah mengikuti politik dan bahkan saya benci politik, tapi saya punya mata, punya telinga, maka itu saya bisa melihat dan mendengar apa saja yang ada di luar sana. Dan percayalah, apapun yang terjadi di luar sana, jauh lebih memprihatinkan daripada krisis politik yang kalian, orang-orang gedean, sedang alami.
Ini lebih dari sekedar politik. Ini tentang kemanusiaan. Tentang perdamaian. Tentang keadilan.
Bapak, lihatlah mereka. Coba tengok setiap butir air mata yang mereka keluarkan. Coba rasakan setiap usaha yang mereka lakukan untuk menyambung hidup mereka. Rasakan Pak, bahwa semua keputusan yang kalian orang-orang gedean putuskan di gedung 'wakil rakyat' itu, sebenarnya nggak semua bisa mereka rasakan. Mungkin nggak mereka rasakan sama sekali, karena hak-hak mereka udah keburu 'dicaplok' sama tikus-tikus di atas mereka.
Saya tahu, Bapak lagi pusing karena bapak dituding ikut andil dalam kasus Bank Century, atau apalah namanya saya nggak peduli. Tapi bisa kan Bapak lihat kami sebentar? Lihat anak-anak jalanan yang tidak bisa sekolah padahal mereka punya hak penuh untuk sekolah, lihat mahasiswa yang selalu berdemo di tempat kediaman Bapak atau di gedung wakil rakyat, lihat penjual sembako di pasar yang sering mengeluh karena kenaikan harga pangan secara tiba-tiba, lihat para petani yang tertunduk lemas karena gagal panen.
Lihat kami semua.
Salam hormat,
Salah satu dari 250 juta rakyat Indonesia.
Labels: Critics